Tahun 2025 menjadi momentum krusial bagi ecotourism Bali sustainable travel 2025 Indonesia ramah lingkungan. Bali mencatat 6,3 juta wisatawan internasional pada 2024 dan menargetkan 6,5 juta pada 2025 menurut Dinas Pariwisata Provinsi Bali. Namun di balik angka pertumbuhan ini, pulau ini menghadapi krisis lingkungan yang serius—menghasilkan 1,2 juta ton sampah per tahun berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024.
Realitanya? Hanya 59,26% sampah Bali yang terkelola dengan baik, sisanya 290.921,85 ton dibuang sembarangan ke lingkungan. Inilah yang membuat sustainable travel bukan sekadar tren Instagram, tapi kebutuhan mendesak untuk menjaga Bali tetap indah.
Kondisi Aktual Pariwisata Berkelanjutan Bali 2025

Pariwisata menyumbang 21,75% dari PDB Bali pada 2024, menciptakan 2,67 juta lapangan kerja dengan pertumbuhan ekonomi 5,48%—melampaui rata-rata nasional 5,03%. Namun pertumbuhan ini datang dengan harga yang mahal bagi lingkungan.
Berdasarkan laporan Institute for Essential Services Reform (IESR) yang dirilis 11 Februari 2025, generasi sampah Bali meningkat 30% dari tahun 2000 hingga 2024. Denpasar menjadi kontributor terbesar dengan 360.000 ton sampah per tahun, 68,32% berupa sampah organik. TPA Suwung yang seharusnya menampung 1.200 ton per hari kini menerima lebih dari 2.000 ton, menyebabkan tumpukan sampah setinggi 30-40 meter.
Untuk ecotourism Bali sustainable travel 2025 Indonesia ramah lingkungan, kamu perlu memahami konteks ini. Data Bali Partnership mengungkap 1,6 juta ton sampah tahunan Bali, dengan 303.000 ton adalah plastik (19,6% dari total sampah). Yang mengkhawatirkan: 33.000 ton plastik bocor ke perairan setiap tahun—11% dari total sampah plastik.
Fakta Penting: Pada September 2024, Bali mengalami banjir besar yang menewaskan 18 orang, dengan sampah yang menyumbat saluran air menjadi salah satu faktor pemicu menurut Menteri Lingkungan Hidup.
Program dan Inisiatif Resmi Pemerintah Bali 2025

Pemerintah Provinsi Bali telah meluncurkan beberapa program konkret untuk mengatasi dampak overtourism. Pada 2 April 2025, Gubernur I Wayan Koster menerbitkan Surat Edaran No. 9 Tahun 2025 yang melarang penggunaan air minum botol plastik di bawah 1 liter di semua sektor termasuk pemerintahan, bisnis, dan sekolah. Target penuh enforcement adalah Januari 2026 sebagai langkah menuju Bali bebas sampah 2027.
Program “Green Growth 2050 Roadmap” yang dikembangkan bersama berbagai stakeholder menetapkan 12 strategi utama berbasis filosofi Tri Hita Karana—keseimbangan antara spiritual, alam, dan manusia. Roadmap ini menargetkan pengurangan karbon signifikan sambil mempertahankan pertumbuhan ekonomi pariwisata.
Eco Tourism Bali (ETB), organisasi yang didirikan September 2021, menerapkan sistem verifikasi 30 komponen kriteria untuk hotel dan restoran. Program ini mencakup:
- Komponen A: Konservasi sumber daya (energi dan air)
- Komponen B: Pengurangan polusi (emisi gas rumah kaca, pengelolaan limbah)
- Komponen C: Konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem
ETB bermitra dengan SUNx Malta untuk membangun komunitas Climate Friendly Travel di Bali, dengan visi 2030 menjadikan Bali destinasi sustainable tourism global. Program Regenerative Bali mereka telah menanam 1.000 mangrove di Teluk Jimbaran pada November 2022 dan lebih dari 60 reef stars untuk rehabilitasi terumbu karang.
Untuk sustainable travel Indonesia ramah lingkungan, pemerintah juga memberlakukan pajak masuk wisatawan sebesar Rp 150.000 sejak Februari 2024, mengumpulkan Rp 318,2 miliar pada tahun pertama untuk dana konservasi lingkungan.
Destinasi dan Akomodasi Tersertifikasi Ramah Lingkungan

Berikut destinasi dan akomodasi yang telah terverifikasi dengan standar keberlanjutan berdasarkan data 2024-2025:
Destinasi Ecotourism Tersertifikasi:
Penglipuran Traditional Village Desa adat ini diakui sebagai salah satu desa terbersih di dunia dengan kebijakan zero plastic sejak 2019. Berdasarkan filosofi Tri Hita Karana, desa ini memiliki hutan bambu seluas 45 hektar dari total 112 hektar area. Visitor mengalami arsitektur berbasis bambu, workshop kerajinan bambu, dan tradisi berkelanjutan yang autentik.
West Bali National Park Taman nasional seluas 190 km² ini menjadi habitat kritis Jalak Bali (Bali myna) yang terancam punah. Program captive-breeding dan reintroduksi berhasil meningkatkan populasi burung endemik ini. Park membatasi visitor untuk menjaga carrying capacity ekosistem.
Nusa Penida Marine Protected Area Kawasan konservasi laut yang fokus pada perlindungan manta ray dan rehabilitasi terumbu karang. Data monitoring menunjukkan peningkatan populasi manta ray berkat upaya konservasi terintegrasi.
Akomodasi Eco-Friendly Terverifikasi:
Bambu Indah Ubud Resort regenerative luxury dengan 23 villa bambu yang didirikan oleh pembuat Green School, John dan Cynthia Hardy. Mengoperasikan 100% energi terbarukan, sistem daur ulang air hujan dan greywater, serta daur ulang lebih dari 80% limbah. Fasilitas mencakup kolam air mata air alami, kebun permaculture, dan sawah yang dipupuk bebek.
The Mulia, Mulia Resort & Villas Pada 2024, resort luxury ini mencapai milestone near-zero waste dengan pengurangan 97,5% limbah ke TPA per tamu per malam—dari 0,550 L (2023) menjadi 0,116 L (2024). Sertifikasi EarthCheck Benchmarking Report 2024 mengonfirmasi pencapaian ini jauh di bawah rata-rata regional 0,30 L. Resort ini juga mengurangi penggunaan air 17% menjadi 1.568 L per tamu per malam.
Untuk mencari akomodasi dan destinasi berkelanjutan lebih banyak, platform Albergo Levoilier menyediakan database destinasi eco-friendly terverifikasi di Indonesia.
Aktivitas Sustainable yang Mendukung Ekonomi Lokal

Data Impact Tourism menunjukkan aktivitas berbasis komunitas menghasilkan 4,3x lebih banyak benefit ekonomi untuk penduduk lokal dibanding tour konvensional. Berikut opsi konkret untuk ecotourism Bali sustainable travel:
Mangrove Planting Programs Program Regenerative Bali ETB melakukan penanaman mangrove tahunan. Pada Juli 2025, acara Global Mangrove Restoration Day memungkinkan tourist menanam mangrove spesies Rhizophora yang melindungi 15+ juta orang dari banjir dan menyimpan 4x lebih banyak karbon daripada hutan hujan.
Coral Reef Restoration Bali memiliki lebih dari 600 terumbu karang yang menjadi pilar keanekaragaman hayati bawah laut. ETB telah menanam lebih dari 60 reef stars dan berkomitmen memperluas upaya ini. Tourist dapat berpartisipasi dalam program penanaman dan monitoring terumbu karang.
Community-Based Tourism Programs Potato Bali Tours menawarkan eco-adventures dan cultural immersion yang dipimpin local experts. Program ini mendukung pendidikan lingkungan dan community engagement autentik melalui pariwisata berkelanjutan.
Wildlife Habitat Restoration Pada Oktober setiap tahun, program penanaman pohon native seperti Shea trees di Uganda meningkatkan survival rate spesies terancam hingga 60%. Program serupa di Bali fokus pada rehabilitasi habitat satwa lokal.
Menurut data 2025, wisatawan yang mengikuti aktivitas berbasis komunitas memiliki Net Promoter Score (NPS) 84—jauh lebih tinggi dari aktivitas mass tourism yang hanya mencapai NPS 61.
Panduan Praktis Mengurangi Jejak Lingkungan saat Traveling
Untuk implementasi sustainable travel Indonesia ramah lingkungan, Gen Z bisa menerapkan strategi konkret ini berdasarkan best practices 2025:
Manfaatkan Water Refill Stations Bali memiliki ratusan stasiun refill air gratis. Menggunakan botol reusable menghemat rata-rata 14 botol plastik per minggu per wisatawan. Program ini sejalan dengan larangan botol plastik di bawah 1 liter yang akan fully enforced Januari 2026.
Pilih Akomodasi Tersertifikasi Data Booking.com Sustainable Travel Report menunjukkan 79% Gen Z travellers memilih akomodasi dengan praktik berkelanjutan. Cek sertifikasi EarthCheck, Green Globe, atau Travelife yang menjamin standar verifikasi independen.
Dukung Local Farmers Program ETB dengan Perumda menghubungkan hotel dengan petani lokal, mencatat transaksi mencapai IDR 10,9 miliar dalam dua tahun terakhir. Pilih restoran atau cooking class yang menggunakan bahan organik lokal.
Gunakan Transportasi Berkelanjutan Dengan pertumbuhan infrastruktur, Bali kini memiliki beberapa stasiun charging untuk kendaraan listrik. Prioritaskan shuttle bus bandara, sepeda, atau motor listrik dibanding private car.
Participate in Beach Clean-Ups Mengingat 33.000 ton plastik bocor ke perairan Bali setiap tahun, partisipasi dalam beach clean-up memberikan dampak nyata. Banyak organisasi mengadakan sesi reguler yang terbuka untuk tourist.
Support Waste Bank Programs Data material flow study 2020 menunjukkan 47.030 ton/tahun sampah masuk waste bank untuk recycling. Pisahkan sampah organik dan anorganik, dan cari waste bank terdekat untuk menyumbang sampah yang bisa didaur ulang.
Tantangan dan Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Meski kesadaran sustainable travel meningkat, masih ada gap antara awareness dan action. Survey Trip.com Group 2024 dari 9.867 responden di 109 negara mengungkap 92% traveller mempertimbangkan sustainable travel, namun hanya 56,9% yang benar-benar mempraktikkannya.
Kesalahan Umum Gen Z Travellers:
1. Greenwashing Trap Banyak bisnis mengklaim “eco-friendly” tanpa sertifikasi resmi. Selalu verifikasi badge EarthCheck, Green Globe, atau Travelife. Jangan percaya klaim tanpa bukti audit independen.
2. Overtourism Contribution Bali masuk daftar Fodor’s “No List” 2025 karena overtourism dan dampak lingkungan. Hotel occupancy rate sebenarnya di bawah 70%, menunjukkan masalah bukan excess tourists tapi distribusi tidak merata. Kunjungi area less-visited seperti West Bali dan East Bali untuk mengurangi tekanan pada hotspot.
3. Single-Use Plastic Meski larangan plastik berlaku, banyak tourist masih menggunakan plastik sekali pakai. Data Ocean Gardener 2025 menunjukkan kantong plastik masih menjadi item sampah paling sering ditemukan di sungai Bali menurut Sungai Watch 2024 Impact Report.
4. Ignoring Wildlife Ethics Jangan berinteraksi dengan satwa eksploitasi atau memberi makan monyet liar. Ini mengganggu perilaku alami dan bisa berbahaya bagi manusia dan satwa.
5. Not Supporting Local Economy Data ETB menunjukkan transaksi IDR 10,9 miliar dengan petani lokal dalam dua tahun. Prioritaskan warung lokal, artisan crafts, dan tour operator berbasis komunitas dibanding chain internasional.
6. Confusing About Sustainable Travel Survey Trip.com Group menemukan beberapa traveller tidak memahami apa itu sustainable travel atau meragukan autentisitas produk sustainable. Edukasi diri dengan sumber kredibel sebelum traveling.
Data Penting: Penelitian menunjukkan 54,7% travellers mencari opsi sustainable saat booking online, dan 72,4% tertarik pada OTA/provider yang highlight sustainable travel offerings.
Baca Juga Glamping Bromo Zero Waste 2025 Dome Tent Solar
Realitas Ecotourism Bali 2025
Ecotourism Bali sustainable travel 2025 Indonesia ramah lingkungan adalah kebutuhan urgent, bukan sekadar tren. Data menunjukkan Bali menghadapi paradox: pertumbuhan pariwisata tercepat pasca-pandemi (6,3 juta tourist 2024) namun krisis lingkungan memburuk (1,2 juta ton sampah/tahun, 290.921 ton dibuang sembarangan).
Poin-poin krusial yang perlu diingat:
Pertama, verifikasi klaim sustainability dengan sertifikasi resmi EarthCheck, Green Globe, atau Travelife—jangan percaya greenwashing. Kedua, distribusikan kunjungan ke area less-visited untuk mengurangi overtourism di hotspot. Ketiga, dukung ekonomi lokal melalui direct spending ke petani, artisan, dan tour operator berbasis komunitas. Keempat, eliminasi penggunaan plastik sekali pakai dengan memanfaatkan 340+ water refill stations. Kelima, partisipasi aktif dalam program konservasi seperti mangrove planting dan coral restoration. Keenam, edukasi diri tentang praktik sustainable travel yang benar untuk menutup gap awareness-action.
Dengan program-program seperti Regenerative Bali, larangan botol plastik 2026, dan target waste-free 2027, Bali menunjukkan komitmen serius terhadap keberlanjutan. Namun keberhasilan bergantung pada partisipasi aktif tourist—terutama Gen Z yang menurut penelitian paling aware tentang isu lingkungan.
Data Trip.com Group 2024 menunjukkan 75,83% travellers mengharapkan opsi sustainable yang jelas saat booking. Industri pariwisata merespons, tapi individual action tetap krusial. Investasi tambahan 20-30% untuk pilihan sustainable hari ini adalah investasi untuk memastikan Bali tetap indah untuk generasi mendatang.
Dari 6 aspek factual di atas, mana yang paling membuka matamu tentang kondisi aktual Bali? Apakah kamu siap mengubah travel habits untuk sustainable travel? Share thoughts-mu di kolom komentar!
